, Hong Kong
483 views
Photo by Grace L. via Pexels

Pelonggaran aturan acara komersial bisa mendorong pop-up dan meredakan krisis ritel

Interaksi sosial selama acara dipandang sebagai masa depan ritel dan pengembangan mix-use.

Dorongan pemerintah untuk melonggarkan persetujuan dan biaya penyelenggaraan acara komersial diperkirakan akan mendorong aktivitas pop-up di pusat perbelanjaan Hong Kong. Ini juga diperkirakan  dapat membantu meredakan kemerosotan ritel yang telah berlangsung selama setahun.

“Dengan inisiatif baru ini, akan jauh lebih mudah bagi pemilik lahan untuk mengizinkan dan memfasilitasi berbagai pemangku kepentingan untuk beroperasi mungkin dalam bentuk karnaval akhir pekan atau perayaan festival yang bisa menjadi ajang bagi toko-toko baru dan independen untuk tampil,” kata Chris Law, ketua komite pemerintah di Urban Land Institute kota tersebut kepada Retail Asia.

“Hal ini bisa menambah berbagai penawaran yang menarik, inovatif, dan seru bagi sektor ritel, makanan, dan minuman di pusat perbelanjaan,” katanya melalui Zoom. “Dengan kemungkinan hadirnya lebih banyak toko pop-up, orang mungkin akan kembali berkunjung hanya dua minggu setelah kunjungan terakhir mereka.”

Penjualan ritel di Hong Kong turun 13% secara tahunan menjadi US$29,4 miliar pada Februari, memperpanjang tren penurunan bulanan selama satu tahun terakhir menurut Departemen Sensus dan Statistik.

Program percontohan yang akan berlangsung hingga 10 April 2027 memungkinkan pemilik lahan atau operator mal menggunakan sebagian area untuk kegiatan komersial atau promosi tanpa harus mengurus izin untuk setiap acara.

Biaya yang disebut sebagai waiver fee ini diturunkan menjadi HK$17.000 untuk bulan pertama dan HK$5.000 per bulan berikutnya yang jauh lebih murah dibandingkan biaya sebelumnya yang mencapai lebih dari HK$60.000 per acara.

Operator dapat menggunakan hingga 20% dari ruang terbuka di pengembangan properti pribadi, dan waktu persetujuan kini dipangkas menjadi sekitar satu bulan. Acara nonkomersial dibebaskan dari biaya.

Pada 2024, berbagai pusat perbelanjaan di Hong Kong telah menggelar sejumlah acara pop-up, termasuk Fashion Summit 2024 di AIRSIDE, Supernatural POP UP oleh grup K-pop NewJeans di Hysan Place, dan Avantgardey Official Pop-up di Festival Walk.

Pop-up adalah ruang ritel sementara yang dibuka dalam waktu terbatas, biasanya untuk menjual produk musiman atau mempromosikan brand yang diselenggarakan di mal tahun ini antara lain: Artist-Made Collection by SEVENTEEN di YOHO MALL I, PopCorn x Time Out Tasting Grounds di PopCorn 1, dan Chill Guy Pop-Up di Festival Walk.

Pendapatan dari pasar toko pop-up di Cina diperkirakan akan lebih dari dua kali lipat menjadi US$852 miliar (CNY800 miliar) tahun ini dibandingkan 2021, menunjukkan pengaruh format ini yang semakin besar terhadap penjualan ritel dan traffic konsumen, menurut studi 2024 oleh Yuyang Gao dari International Department, Jinling High School Hexi Campus, Nanjing.

Jason Kwong, head of land consultancy di Colliers Hong Kong, mengatakan pelonggaran aturan ini bisa meningkatkan pendapatan penyewa ruang komersial, sekaligus meningkatkan visibilitas properti dan penghuninya.

Chris Law mengatakan interaksi sosial selama acara baik pop-up maupun bentuk lainnya adalah masa depan ritel dan pengembangan mix-use, bersama dengan ruang untuk toko-toko baru dan independen. Ia menambahkan, acara seperti ini juga akan mendorong praktik placemaking, yakni menciptakan ruang yang mendukung interaksi sosial, usaha lokal, dan rasa kepemilikan terhadap suatu tempat.

“Placemaking bisa memberikan manfaat besar yang belum tergali bagi pemilik lahan atau properti, karena ketika orang mulai merasa terhubung dengan suatu tempat, mereka akan membangun hubungan yang kuat dan terus kembali,” kata Law, merujuk pada upaya placemaking di Tong Chong Street Market dan Tai Kwun.

Kwong memperkirakan skema ini paling menguntungkan bagi pengembang besar seperti Henderson, Hysan, Chinachem, dan Sun Hung Kai.

Henderson telah mengalokasikan setidaknya 25.000 meter persegi ruang terbuka di Site 3, Harbourfront, Central. Hysan dan Chinachem akan menyediakan setidaknya 6.000 meter persegi di Caroline Hill Road, sementara Sun Hung Kai menawarkan tidak kurang dari 6.550 meter persegi di Sai Yee Street, Mong Kok, tambahnya.

DFI Retail perbarui toko Guardian dan IKEA untuk pengalaman belanja lebih cerdas

Bisnis tidak lagi sekadar transaksi, tetapi semakin bersifat advisori.

Beyond The Vines memanfaatkan wawasan daring untuk menyasar pertumbuhan di luar negeri

Brand ini melihat respons online sebelum membuka toko fisik.

Watsons luncurkan layanan eConsultation apotek pertama di Singapura

Targetnya profesional sibuk dan orang yang menginginkan privasi.

Mal di Indonesia prioritaskan pembaruan dibanding ekspansi

Perubahan ini mencerminkan fokus Thailand pada leisure dan Jepang pada efisiensi.

Oh!Some mengandalkan retail berbasis pengalaman untuk menarik konsumen

Layout toko interaktif, kolaborasi, dan event langsung bertujuan mendorong kunjungan ulang.

Departemen store di Singapura mengecil, tambahkan konsep kuliner dan wellness

Media sosial dan e-commerce menaikkan ekspektasi konsumen.

Tumi perluas gerai flagship di Greater China

Tumi berencana membuka putaran baru gerai flagship di Beijing, Chengdu, dan Shenzhen.

Perjalanan ke Shenzhen dorong pembelian produk perawatan rumah tangga oleh warga Hong Kong

Tiga dari empat warga Hong Kong mengunjungi provinsi Tiongkok ini pada bulan April.

Matahari buka toko ZES pertama di Jakarta

Merek ini ingin menciptakan ekosistem gaya hidup yang lebih luas.