MAP Indonesia bidik kelas menengah dengan fokus rumah dan kesehatan
Peritel menargetkan 70–80 juta orang di segmen menengah ke atas.
PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAP Indonesia), raksasa ritel di balik lebih dari 150 merek global di Indonesia, termasuk Starbucks dan Marks & Spencer, memperluas bisnisnya ke kategori rumah tangga dan kesehatan seiring targetnya pada pertumbuhan kelas menengah di tanah air.
“Banyak orang Indonesia kini memiliki rumah atau apartemen, dan mereka ingin membuat ruang itu lebih nyaman,” kata Anthony Cottan kepada Retail Asia saat Retail Asia Summit-Indonesia.
Sejalan dengan tren ini, MAP menghadirkan Zara Home dan baru-baru ini memperkenalkan peralatan rumah tangga dengan label SharkNinja.
MAP juga menyoroti peluang di sektor wellness. Setelah masuk ke bisnis farmasi melalui kemitraan dengan Boots, perusahaan tengah menjajaki ekspansi lebih lanjut pada produk dan layanan kesehatan.
“Kami tidak ingin kehilangan fokus pada inti bisnis, tapi kami harus relevan untuk kelas menengah yang terus berkembang di Indonesia,” tambah Cottan.
Alih-alih bersaing di pasar massal, MAP membidik segmen menengah ke atas—diperkirakan berjumlah 70 hingga 80 juta orang.
Saat ini, perusahaan mempekerjakan lebih dari 30.000 orang dan mengoperasikan 3.700 toko di seluruh Indonesia, mengelola portofolio merek yang mencakup olahraga seperti Adidas dan Puma; fashion seperti Pull & Bear dan merek mewah seperti Loewe; department store seperti SOGO; serta teknologi seperti Digimap.
“MAP menonjol karena budaya profesional dan berorientasi kinerja yang memberdayakan talenta berkualitas—baik lokal maupun internasional—tanpa micromanagement,” kata Cottan. “Setiap unit bisnis, dari F&B hingga fashion, beroperasi secara independen dan menguntungkan, didukung infrastruktur bersama yang meningkatkan efisiensi di seluruh organisasi.”
Ia menambahkan, setiap merek mendapatkan perhatian khusus. “MAP memperlakukan setiap merek secara bespoke, bahkan di kategori yang tumpang tindih, dengan tim dedicated dan otonomi operasional.”
Sejak awal sebagai peritel olahraga pada 1990-an, MAP telah berevolusi menjadi peritel gaya hidup. MAP Tech, unit e-commerce perusahaan, berkembang menjadi unit bisnis terbesar kedua dalam enam tahun terakhir.
“Kami mempercepat pertumbuhan divisi digital berkat hubungan kuat dengan mal dan penempatan ruang strategis,” ujar Cottan, merujuk pada kehadiran signifikan MAP di pusat perbelanjaan, yang mencapai 30% dari total tenancy di beberapa mal.
Meski dikenal dengan kehadiran fisik, pertumbuhan digital MAP terus meningkat. Lebih dari 10% pendapatan kini berasal dari kanal online, dengan kehadiran di 51 platform termasuk Shopee, Lazada, TikTok, dan Zalora.
“Kami melihat perilaku O2O yang kuat,” kata Cottan, merujuk pada tren belanja online-to-offline. “Untuk merespons ini, MAP menekankan pengalaman yang seamless di semua platform.”
Cottan menambahkan, orang Indonesia berbelanja untuk hiburan, bukan sekadar kebutuhan, sehingga peritel harus menghadirkan pengalaman, bukan sekadar transaksi. Perusahaan pun berinvestasi dalam format toko yang experiential dan kampanye pemasaran adaptif berdasarkan data konsumen real-time.
“Sebagai perusahaan ritel, yang kami miliki hanyalah kepercayaan orang,” ujar Cottan. “Kepercayaan itulah alasan merek internasional seperti Starbucks, Apple, dan Loewe bekerja sama dengan MAP untuk menjaga standar global.”