, APAC
317 views
Photo by Polina Kovaleva on Pexels

Brand didorong untuk lebih transparan dalam perawatan kecantikan

Konsumen semakin cermat dan mudah mengenali klaim bahan yang palsu.

Brand kosmetik yang ingin memasuki atau memperluas pasar dalam kategori clean beauty disarankan untuk membangun kepercayaan melalui klaim yang didukung sains dan transparansi bahan. Hal ini mengingat hampir setiap produk kini mengklaim hanya menggunakan bahan alami, menurut para ahli perawatan kecantikan.

Konsumen juga telah menjadi lebih cermat dan dengan mudah dapat mengenali pernyataan yang tidak benar.
“Dibandingkan beberapa tahun lalu, transparansi bahan kini telah bergeser dari sekadar ‘nilai tambah’ menjadi suatu ‘keharusan,’” kata Annie Yao, Head of Growth di Flywheel Asia Tenggara, kepada Retail Asia.

Yao memperkirakan perusahaan kosmetik akan terus beralih ke konsep clean beauty—sebuah gerakan dalam industri kecantikan yang menekankan penggunaan produk berbahan aman, tidak beracun, dan ramah lingkungan—sebagai standar baru, seiring meningkatnya permintaan konsumen akan produk yang lebih alami.

Clean beauty juga mencakup kepedulian terhadap planet. Brand-brand clean beauty sering menggunakan bahan yang berkelanjutan dan dapat didaur ulang untuk mengurangi jejak karbon mereka.

Ukuran pasar global clean beauty diperkirakan mencapai US$8,25 miliar pada 2023 dan diproyeksikan tumbuh sebesar 14,8% per tahun dari 2024 hingga 2030, menurut Grand View Research. Pertumbuhan pasar ini didorong oleh meningkatnya kekhawatiran konsumen terhadap keamanan produk kosmetik, dampak lingkungan, dan kandungan bahan berbahaya dalam produk kecantikan dan perawatan pribadi.

Yao mencatat bahwa selain menawarkan formulasi yang bersih, brand juga perlu menguasai seni bercerita. Brand yang menyoroti asal-usul dan efektivitas bahan secara menarik cenderung lebih berhasil menarik minat beli konsumen, tambahnya.

“Peluncuran produk-produk di sektor kecantikan akan mengarah ke hal  yang lebih bersih,” katanya. “Kemungkinan akan ada lebih sedikit bahan, namun lebih banyak pembahasan tentang asal-usul bahan tersebut dan efektivitasnya.”

Yao mengatakan bahwa dari perspektif disrupsi, menarik untuk mengamati bagaimana biaya produksi kosmetik menurun dalam dua hingga tiga tahun terakhir. “Hal ini terutama didorong oleh pasar seperti Cina, di mana kemungkinan ada masalah kelebihan kapasitas dalam produksi skincare. Akibatnya, kita melihat kemunculan generasi baru produk clean beauty.”

Konsumen di kawasan Asia-Pasifik bersedia membayar 10% hingga 20% lebih mahal untuk produk yang mereka pedulikan, “dan itu mencakup bahan-bahan alami dan premium,” kata Egle Tekutyte, innovation consultant di Euromonitor International.

Kenneth Carsula, manajer di divisi YCP Interactive Solutions, firma konsultan yang berbasis di Singapura, mengatakan bahwa clean beauty telah membuat konsumen menjadi lebih cermat terhadap bahan yang mereka aplikasikan ke kulit.

“Sekarang sangat penting untuk membangun kredibilitas dan reputasi di ruang clean beauty dengan benar-benar mengakses sumber daya yang tepat,” katanya. Ini termasuk ilmuwan atau dermatolog yang “berbicara dalam bahasa yang bisa dipahami konsumen Anda, tetapi juga memiliki pengetahuan luas di industri ini.”

‘1.200 bahan’

Carsula mengatakan media sosial telah menyederhanakan perjalanan belanja konsumen, memungkinkan mereka untuk langsung menelusuri bahan-bahan begitu melihat produk secara online. Karena itu, transparansi menjadi sangat penting bagi merek.

JeeSeon Park, chief sustainability officer di L'Oréal North Asia, mengatakan bahwa produk Helena Rubinstein Replasty Age Recovery Skin Regeneration Night Care—salah satu produk paling diminati mereka—menggunakan energi hijau dan pelarut nonpetrokimia seperti air dalam proses produksinya. Produk ini juga mengandung Pro-Xylane, bahan berbasis green chemistry yang meningkatkan produksi elemen penting pembentuk kulit.

L’Oréal North Asia menggunakan sistem penilaian dampak lingkungan dan sosial pada produknya, dari peringkat A hingga E, kata Park. “Produk dengan peringkat ‘A’ dianggap yang terbaik dalam hal dampak lingkungan.”

“Skor ini memberikan gambaran akurat tentang dampak produk L’Oréal dengan mempertimbangkan 14 faktor dampak planet, seperti emisi gas rumah kaca, kelangkaan air, pengasaman laut, atau dampaknya terhadap keanekaragaman hayati, yang diukur pada setiap tahap siklus hidup produk,” tambahnya.

Perusahaan kosmetik asal Prancis ini—yang terbesar di dunia—juga memiliki kamus bahan bernama Inside Our Products yang bisa diakses konsumen secara daring untuk mendapatkan informasi mendalam tentang bahan-bahannya.

“Direktori utama ini menawarkan informasi mendetail mengenai lebih dari 1.200 bahan, termasuk asal-usul, manfaat, dan profil keamanannya,” kata Park. “Direktori ini juga menampilkan bagian khusus untuk menjawab pertanyaan umum tentang bahan tertentu serta membahas kekhawatiran konsumen terhadap potensi alergen atau iritan.”

 

Peritel India beralih ke strategi hiperlokal seiring ekspansi berbasis kota mulai kehilangan relevansi

Peritel memanfaatkan data pasar mikro untuk menentukan lokasi pembukaan toko.

Siam Piwat terapkan standar ramah lingkungan bagi seluruh tenant mal di Bangkok

Permintaan pascapandemi mendorong pergeseran menuju konsumsi yang lebih bertanggung jawab.

Nando's andalkan desain gerai untuk menangi persaingan lokasi drive-thru

Jaringan restoran ini membidik lokasi premium di luar klaster QSR tradisional.

Merek kecantikan rombak strategi penjualan seiring TikTok dan Douyin kuasai belanja livestream

Douyin melampaui Tmall sebagai platform e-commerce kecantikan terbesar di China pada 2025.

Restoran ramah hewan peliharaan berpotensi dongkrak lalu lintas mal di pusat kota Hong Kong

Belanja akhir pekan diperkirakan lebih menguntungkan mal di pusat kota dibandingkan pusat perbelanjaan di pinggiran.

Peritel Asia ubah sistem POS jadi alat pemasaran real-time

Pembayaran QR dan dompet digital mendorong sistem kasir berkembang melampaui fungsi transaksi.

Uniqlo buka gerai interaktif koleksi pakaian untuk cuaca panas di Singapura

Pengunjung dapat merasakan langsung fungsi kain melalui instalasi interaktif.

Pelonggaran sewa tarik kembali peritel ke jalanan Hong Kong

Toko di lantai dasar menawarkan visibilitas lebih tinggi bagi peritel makanan dan kebutuhan sehari-hari.

Kepergian Deliveroo picu duopoli pengiriman makanan di Singapura

Konsolidasi pasar diperkirakan mendorong kenaikan biaya pengiriman dan komisi merchant seiring dominasi Grab dan Foodpanda.

Menu lebih ramping dipandang jadi kunci usai 2.431 gerai F&B tutup

Penutupan usaha mencapai level tertinggi dalam hampir 20 tahun setelah gelombang likuidasi bisnis.