, APAC
3970 views
Lex Bradshaw-Zanger, Chief Marketing and Digital Officer for SAPMENA L’Oréal

Bagaimana L’Oréal memanfaatkan teknologi digital untuk menjadi ‘beauty life companion’

Menggabungkan data, kreativitas, dan teknologi mutakhir untuk membentuk ulang pengalaman konsumen.

Mengintegrasikan teknologi dengan pengalaman shopperyang dipersonalisasi kini menjadi hal yang krusial, terutama di era inovasi digital dan perubahan perilaku konsumen yang semakin cepat. L’Oréal merespons kebutuhan ini dengan beralih dari layanan "phygital" ke konsep "beauty life companion", di mana e-commerce berperan sebagai titik sentuh utama.

Dalam wawancara dengan Retail Asia, Lex Bradshaw-Zanger, Chief Marketing and Digital Officer untuk L’Oréal di Asia Selatan-Pasifik, Timur Tengah, dan Afrika Utara (SAPMENA), membahas bagaimana perusahaan memelopori masa depan e-commerce dalam industri kecantikan dengan menggabungkan data, kreativitas, dan teknologi canggih guna mentransformasi pengalaman konsumen.

Teknologi yang muncul

“Ambisi besar kami untuk e-commerce memerlukan rantai pasokan yang dapat beradaptasi dan perhatian yang cermat terhadap peluang online yang muncul seperti analitik dan Gen AI,” kata Bradshaw-Zanger.
Perusahaan ini berencana untuk mengguncang e-commerce dengan menggunakan analitik canggih dan generative AI.

Tujuannya adalah untuk meningkatkan berbagai aspek, mulai dari memahami perilaku konsumen dan membuat konten, hingga strategi pemasaran.

Jadi, harapkan pengalaman belanja online yang diperbarui, dengan wawasan yang lebih cerdas, konten segar, pemasaran yang menarik, dan fitur interaktif seperti livestreaming virtual dan interface belanja baru dari L’Oréal.

Bagian signifikan dari strategi ini adalah menciptakan integrasi yang mulus antara saluran online dan offline, di mana perusahaan menekankan pentingnya rantai pasokan yang kuat dan kemitraan strategis untuk mendefinisikan ulang lanskap industri.

Performa e-commerce

L’Oréal telah mencatatkan kesuksesan besar dalam upaya e-commerce mereka: 27% dari penjualan global pada 2023 berasal dari saluran online, dengan pertumbuhan bersih 9,5%. Grup ini juga memegang posisi teratas dalam pangsa pasar e-commerce global di sektor kecantikan tahun lalu.

Wilayah SAPMENA, yang ditandai dengan populasi muda dan digital savy, sangat menjanjikan.

Dengan 43% populasi di bawah usia 25, L’Oréal telah melihat pertumbuhan signifikan melalui layanan digital dan kemitraan strategis. Bahkan, perusahaan mencatat lebih dari 50 juta interaksi dengan layanan Beauty Tech di SAPMENA tahun lalu, yang menghasilkan peningkatan konversi lebih dari dua kali lipat.

Layanan digital dan acara yang berfokus pada konsumen, seperti aktivasi Maybelline New York Chromaverse, semakin memperkuat keterlibatan dan penjualan.

"Acara yang berfokus pada konsumen dalam kemitraan dengan platform e-commerce juga memainkan peran besar dalam melibatkan konsumen, merekrut shopper baru, dan meningkatkan minat terhadap produk kecantikan," kata Bradshaw-Zanger.

Seiring teknologi mengubah kebiasaan berbelanja, L’Oréal menawarkan interaksi brand yang terintegrasi di ruang fisik, digital, dan virtual.

Transformasi digital perusahaan, yang telah berlangsung lebih dari satu dekade, kini menjadikan e-commerce mewakili seperempat dari penjualan global mereka. Pada 2023, L’Oréal mengelola 255 situs direct-to-consumer untuk 33 merek, memastikan pengalaman konsumen yang optimal terlepas dari medium belanja.

Bradshaw-Zanger menekankan bahwa konsumen kini berinteraksi dengan brand dalam berbagai cara, termasuk menonton video #GRWM di TikTok tentang produk, mencari manfaat dan bahan di situs web, mengunjungi toko fisik, atau melakukan pembelian online maupun di toko.

"Pemasaran tidak berubah, tetapi pemasar harus berubah," catatnya. "Semua pemasar harus memahami bagaimana produk, layanan, dan pengalaman yang kami bawa kepada konsumen dapat relevan di era digital."
Inovasi untuk Gen Z.

Untuk terhubung dengan Generasi Z, L’Oréal berinvestasi besar dalam inovasi digital. Bradshaw-Zanger mengatakan bahwa teknologi Virtual Try-On (VTO), yang telah digunakan secara luas di seluruh dunia, sangat menarik bagi kelompok ini.

Alat seperti BeautyCam, yang telah digunakan lebih dari 100 juta kali di Asia Tenggara, dan opsi livestreaming untuk rekomendasi produk secara real-time, menjadi inti dalam menjangkau audiens ini.

L’Oréal juga meluncurkan Big Bang Beauty Tech Innovation Program, sebuah kompetisi terbuka yang mencari startup dengan solusi mutakhir dalam augmented tech dan layanan digital, yang akan mencapai puncaknya pada final di Singapura pada Oktober mendatang.

Pengalaman satu dekade

Strategi digital L’Oréal memanfaatkan lebih dari satu dekade pengalaman untuk meningkatkan visibilitas merek dan keterlibatan konsumen. Perusahaan ini fokus menawarkan pengalaman merek yang unik di situs direct-to-consumer mereka seperti La Roche-Posay’s AI-based Spotscan untuk solusi jerawat yang dipersonalisasi.

Selain itu, data menjadi aset krusial bagi L’Oréal. Dalam lingkungan yang semakin tanpa cookie, layanan digital mereka menghasilkan data berkualitas tinggi yang membantu meningkatkan lalu lintas dan konversi.

"Kami memanfaatkan data untuk traffic dan konversi serta menggunakan wawasan ini untuk lebih responsif dan bersaing lebih baik," kata Bradshaw-Zanger.

Alat berbasis AI, termasuk Beauty Genius, asisten kecantikan pribadi baru, semakin menggaungkan pendekatan ini dengan memberikan rekomendasi yang disesuaikan.

Selain itu, kolaborasi yang sukses juga memainkan peran penting dalam memperkuat kehadiran e-commerce L’Oréal. Akuisisi ModiFace pada 2018, aplikasi augmented reality, telah berperan besar dalam menghadirkan virtual try-ons yang realistis dan analisis kulit di berbagai brand.

Ke depan, L’Oréal berencana untuk terus menjadi pelopor dalam Beauty Tech dengan inovasi yang inklusif, personal, dan berkelanjutan. Inovasi mendatang meliputi aplikator makeup bertenaga AI untuk mereka yang memiliki keterbatasan motorik, pembuat warna lipstik yang dipersonalisasi, serta fokus pada keberlanjutan dengan teknologi seperti Water Saver shower head dan AirLight Pro hair drying tool, yang mengurangi konsumsi air dan energi.

Peritel India beralih ke strategi hiperlokal seiring ekspansi berbasis kota mulai kehilangan relevansi

Peritel memanfaatkan data pasar mikro untuk menentukan lokasi pembukaan toko.

Siam Piwat terapkan standar ramah lingkungan bagi seluruh tenant mal di Bangkok

Permintaan pascapandemi mendorong pergeseran menuju konsumsi yang lebih bertanggung jawab.

Nando's andalkan desain gerai untuk menangi persaingan lokasi drive-thru

Jaringan restoran ini membidik lokasi premium di luar klaster QSR tradisional.

Merek kecantikan rombak strategi penjualan seiring TikTok dan Douyin kuasai belanja livestream

Douyin melampaui Tmall sebagai platform e-commerce kecantikan terbesar di China pada 2025.

Restoran ramah hewan peliharaan berpotensi dongkrak lalu lintas mal di pusat kota Hong Kong

Belanja akhir pekan diperkirakan lebih menguntungkan mal di pusat kota dibandingkan pusat perbelanjaan di pinggiran.

Peritel Asia ubah sistem POS jadi alat pemasaran real-time

Pembayaran QR dan dompet digital mendorong sistem kasir berkembang melampaui fungsi transaksi.

Uniqlo buka gerai interaktif koleksi pakaian untuk cuaca panas di Singapura

Pengunjung dapat merasakan langsung fungsi kain melalui instalasi interaktif.

Pelonggaran sewa tarik kembali peritel ke jalanan Hong Kong

Toko di lantai dasar menawarkan visibilitas lebih tinggi bagi peritel makanan dan kebutuhan sehari-hari.

Kepergian Deliveroo picu duopoli pengiriman makanan di Singapura

Konsolidasi pasar diperkirakan mendorong kenaikan biaya pengiriman dan komisi merchant seiring dominasi Grab dan Foodpanda.

Menu lebih ramping dipandang jadi kunci usai 2.431 gerai F&B tutup

Penutupan usaha mencapai level tertinggi dalam hampir 20 tahun setelah gelombang likuidasi bisnis.