, APAC
700 views
Photo Cup of Couple via Pexels

Personalisasi AI mewarnai masa depan ritel

Bisnis menggunakan AI untuk mendapatkan wawasan yang lebih dalam tentang kebutuhan dan preferensi konsumen demi omnichannel yang lebih sesuai.

Rekomendasi yang dipersonalisasi berdasarkan AI mengubah cara bisnis dalam pendekatan omnichannel. Hal ini membuka peluang baru untuk pertumbuhan dan inovasi.

Sibojyoti Chatterjee, direktur umum KFC Vietnam, mengatakan bahwa AI memungkinkan bisnis untuk memahami konsumen secara mendalam, menawarkan rekomendasi produk yang disesuaikan berdasarkan wawasan.

Selain itu, algoritma AI menyediakan analitik prediktif dan membantu bisnis mengantisipasi permintaan serta mengoptimalkan manajemen stok.

“Kebanyakan perusahaan melakukan perdagangan omnichannel; mereka sudah memiliki dasar-dasarnya,” kata Chatterjee kepada peserta di Retail Asia Forum yang baru-baru ini diadakan di Kota Ho Chi Minh.

“Apa yang berbeda adalah ketika inisiatif perdagangan omnichannel matang, perusahaan semakin baik melakukannya, membuat transaksi lebih mulus, dan beberapa mengimplementasikan AI yang menguatkan semua inisiatif mereka di omnichannel,” tambahnya.

Chatterjee juga menyoroti evolusi chatbot dalampercakapan, merevolusi interaksi customer da pemasaran melalui berbagai saluran.

“Pesan pemasaran yang optimal kepada pelanggan tidak hanya merubahsiapa yang kita jangkau, tetapi saluran mana yang kita gunakan untuk menjangkau mereka dan pada waktu kapan,” katanya.

Eksekutif bisnis tersebut juga menyebutkan bagaimana AI membuka analisis data yang mendalam dan mendorong pengambilan keputusan di luar kemampuan manusia.

Hal ini terjadi terutama ketika AI dikombinasikan dengan teknologi seperti machine learning,deep learning, Natural Language Processing (NLP), dan visi komputer, mendorong perubahan yang signifikan.

“AI, bersama dengan teknologi inti ini dan teknologi terkait seperti augmented reality, robotik, otomatisasi proses robotik, semua ini bersatu untuk terkadang menciptakan pengalaman yang sangat unik,” kata Chatterjee.

Dia menyebutkan, contoh yaitu  Sephora yang menggunakan AI untuk mencoba produk secara virtual guna menemukan produk mana yang dipersonalisasi, sementara Nike mengoptimalkan rantai pasokannya menggunakan analitik data real-time.

Starbucks adalah salah satu yang menggunakan AI untuk mempersonalisasi interaksi pelanggan melalui aplikasinya. Kemudian, ada Amazon yang memanfaatkan AI,machine learning, dan robotik untuk manajemen inventaris yang efisien dan penetapan harga dinamis.

Tentu saja, ini tidak tanpa tantangan, sehingga Chatterjee juga membahas kekhawatiran seperti bias, masalah privasi, dan integrasi dengan sistem lama kepada audiens di forum Vietnam pada 14 Maret lalu.

“Terkadang mungkin kita tidak bisa menciptakan pengalaman yang sangat personal bagi pelanggan,” kata Chatterjee. “Pelanggan mungkin merasa bingung masuk ke dalam aplikasi dan berpikir, ‘Oh Tuhan, saya tidak benar-benar menyukai apa yang saya lihat di sana. Ini tidak benar-benar sesuai dengan selera saya.’ Semua ini bisa terjadi.”

Namun demikian, Chatterjee tetap optimisTIS tentang masa depan AI. dIAmenyebutkan perkembangan menarik seperti Apple Vision Pro dari Apple dan potensi augmented reality di sektor ritel.

Peritel India beralih ke strategi hiperlokal seiring ekspansi berbasis kota mulai kehilangan relevansi

Peritel memanfaatkan data pasar mikro untuk menentukan lokasi pembukaan toko.

Siam Piwat terapkan standar ramah lingkungan bagi seluruh tenant mal di Bangkok

Permintaan pascapandemi mendorong pergeseran menuju konsumsi yang lebih bertanggung jawab.

Nando's andalkan desain gerai untuk menangi persaingan lokasi drive-thru

Jaringan restoran ini membidik lokasi premium di luar klaster QSR tradisional.

Merek kecantikan rombak strategi penjualan seiring TikTok dan Douyin kuasai belanja livestream

Douyin melampaui Tmall sebagai platform e-commerce kecantikan terbesar di China pada 2025.

Restoran ramah hewan peliharaan berpotensi dongkrak lalu lintas mal di pusat kota Hong Kong

Belanja akhir pekan diperkirakan lebih menguntungkan mal di pusat kota dibandingkan pusat perbelanjaan di pinggiran.

Peritel Asia ubah sistem POS jadi alat pemasaran real-time

Pembayaran QR dan dompet digital mendorong sistem kasir berkembang melampaui fungsi transaksi.

Uniqlo buka gerai interaktif koleksi pakaian untuk cuaca panas di Singapura

Pengunjung dapat merasakan langsung fungsi kain melalui instalasi interaktif.

Pelonggaran sewa tarik kembali peritel ke jalanan Hong Kong

Toko di lantai dasar menawarkan visibilitas lebih tinggi bagi peritel makanan dan kebutuhan sehari-hari.

Kepergian Deliveroo picu duopoli pengiriman makanan di Singapura

Konsolidasi pasar diperkirakan mendorong kenaikan biaya pengiriman dan komisi merchant seiring dominasi Grab dan Foodpanda.

Menu lebih ramping dipandang jadi kunci usai 2.431 gerai F&B tutup

Penutupan usaha mencapai level tertinggi dalam hampir 20 tahun setelah gelombang likuidasi bisnis.