Peritel Asia ubah sistem POS jadi alat pemasaran real-time
Pembayaran QR dan dompet digital mendorong sistem kasir berkembang melampaui fungsi transaksi.
Peritel di Asia semakin memanfaatkan sistem *point-of-sale* (POS) untuk menghadirkan promosi dan penawaran yang dipersonalisasi secara real-time, seiring pesatnya adopsi pembayaran digital di kawasan ini.
"Asia menjadi salah satu laboratorium terpenting bagi inovasi ritel generasi berikutnya karena skala pasar, tingkat kesiapan digital, dan keragamannya," kata Eugene Macey, partner sekaligus kepala divisi digital di Simon-Kucher Elevate, kepada *Retail Asia*.
Macey mengatakan kawasan ini mencakup sekitar 60% populasi dunia dan menghasilkan 46% produk domestik bruto (PDB) global, didukung oleh pertumbuhan kelas menengah yang terus meningkat.
Dalam kondisi tersebut, menurutnya, peritel mulai mengubah fungsi sistem POS dari sekadar alat pemrosesan pembayaran menjadi platform yang mendukung berbagai aktivitas bisnis ritel.
"Sistem POS modern bukan lagi sekadar mesin kasir. Sistem ini kini terhubung dengan inventaris, program loyalitas, penawaran yang dipersonalisasi, penjadwalan staf, pengisian ulang stok, hingga kanal digital," ujarnya melalui jawaban tertulis.
Ia menambahkan, semakin banyak peritel memanfaatkan data transaksi di kasir untuk memicu diskon dan promosi secara real-time.
"Pembelian impulsif kini semakin didorong oleh data dan dipicu secara digital," katanya.
Sean Fu, senior vice president untuk Greater China di Global Payments, Inc., mengatakan pesatnya pertumbuhan pembayaran digital turut mempercepat transformasi tersebut.
Menurutnya, pembayaran berbasis QR (*quick response*) kini mencakup lebih dari 90% transaksi harian di China, menjadikan kebiasaan *scan-to-pay* sebagai bagian dari aktivitas belanja sehari-hari.
Di Asia Tenggara, adopsi dompet digital juga terus meningkat di berbagai kelompok usia, didorong oleh program digitalisasi yang didukung pemerintah.
"Pergeseran menuju pembayaran yang lebih praktis, cepat, dan berbasis perangkat seluler—baik melalui QR, dompet digital, maupun kartu *contactless*—menjadi faktor utama yang mendorong adopsi teknologi POS sekaligus membentuk perilaku konsumen di Asia," kata Fu melalui jawaban tertulis.
Peritel kini semakin memanfaatkan sistem kasir untuk menyajikan promosi yang lebih relevan sebelum transaksi selesai, terutama pada kategori dengan frekuensi pembelian tinggi seperti bahan pangan serta makanan dan minuman.
Fu menambahkan, hambatan sekecil apa pun pada proses checkout dapat memengaruhi tingkat konversi penjualan.
Jaivinder Singh Gill, senior vice president untuk kawasan Asia-Pasifik, Timur Tengah, dan Afrika bidang perbankan dan ritel di Diebold Nixdorf Inc., mengatakan peritel kini mengembangkan sistem POS menjadi alat pendukung pengambilan keputusan di tengah operasional toko yang semakin kompleks.
Menurutnya, meningkatnya kembali kunjungan pelanggan pascapandemi, program loyalitas yang tersebar di berbagai platform, serta keterbatasan tenaga kerja menjadi faktor utama yang mengubah operasional ritel.
"Satu-satunya momen yang benar-benar dimiliki peritel adalah saat transaksi," katanya melalui email. "Sistem POS modern membuat momen tersebut menjadi lebih bernilai. Checkout bukan lagi akhir dari perjalanan belanja, melainkan titik penting untuk memengaruhi keputusan pelanggan."
Gill mengatakan peritel semakin memanfaatkan data keranjang belanja secara real-time untuk merekomendasikan produk tambahan sebelum pembayaran, sehingga meningkatkan nilai transaksi tanpa mengganggu pengalaman pelanggan.
Pembelian impulsif
Pendorong pembelian impulsif yang sebelumnya mengandalkan penempatan produk di rak kini semakin bergeser ke promosi digital yang terhubung dengan program loyalitas dan aplikasi seluler.
Di Filipina, Philippine Seven Corp. memanfaatkan teknologi *machine learning* melalui platform CLiQQ untuk menghasilkan kupon yang dipersonalisasi dan dapat digunakan saat checkout.
Di Australia, Coles Group Ltd. telah menerapkan troli belanja pintar berbasis kecerdasan buatan (AI) yang memungkinkan pelanggan memantau pengeluaran sekaligus menerima promosi selama berbelanja.
Fu mengatakan pendekatan serupa juga telah diterapkan di supermarket di Hong Kong dan jaringan apotek di Taiwan, di mana sistem kasir merekomendasikan diskon pembelian dalam jumlah tertentu maupun produk pelengkap saat transaksi berlangsung.
Gill menambahkan peritel di China mengintegrasikan sistem POS dengan mini-program WeChat milik Tencent Holdings Ltd. untuk menyampaikan penawaran yang dipersonalisasi setelah produk dipindai, tetapi sebelum pembayaran dilakukan.
"Efek pembelian impulsif akan paling kuat ketika tiga faktor bertemu, yaitu relevansi, waktu yang tepat, dan minimnya hambatan dalam proses pembelian," ujarnya.
Meski adopsinya berkembang pesat, modernisasi sistem POS masih berlangsung tidak merata di berbagai negara Asia. Macey mengatakan sistem yang terfragmentasi, teknologi lama, dan biaya implementasi menjadi hambatan utama.
Fu menambahkan keterbatasan anggaran di kalangan usaha kecil, kualitas data yang belum optimal, serta resistensi terhadap perubahan juga memperlambat adopsi teknologi.
Sementara itu, Gill mengingatkan bahwa sistem POS yang bergantung penuh pada konektivitas cloud berisiko menghadapi kendala di sejumlah negara Asia Tenggara yang infrastruktur digitalnya masih terbatas.
Dalam 12 bulan ke depan, para eksekutif tersebut memperkirakan pengembangan POS akan berfokus pada personalisasi berbasis AI, pembayaran biometrik, dompet digital, troli belanja pintar, serta integrasi yang semakin erat antara kanal ritel daring dan toko fisik.
Gill mengatakan arah jangka panjangnya adalah *unified commerce*, di mana pembayaran, program loyalitas, promosi, inventaris, dan pemenuhan pesanan dikelola melalui satu platform ritel secara real-time.