, Philippines
1515 views
From L-R: Iris Lorenzo, managing director of Kadence International Business Research, Inc.; Andoy Montiel, chief data officer of The Pack Solutions, Inc..

AI merambah toko kelontong di Filipina

Penerapan yang lebih luas berpotensi menghasilkan nilai ekonomi hingga US$48 miliar pada 2030.

Kecerdasan buatan (AI) mulai mengubah cara toko kelontong tradisional (mom-and-pop) di Filipina mengelola inventaris. Namun, adopsinya masih dihadapkan pada tantangan berupa margin usaha yang tipis, operasional yang masih mengandalkan pencatatan manual, serta infrastruktur digital yang belum merata.

Dengan beralih dari pembukuan manual ke perangkat berbasis AI, peritel mikro berpotensi mempercepat perputaran stok, memperbaiki arus kas, dan mengurangi pemborosan akibat barang yang tidak terjual.

Adopsi AI secara luas diperkirakan dapat menciptakan nilai ekonomi hingga US$48 miliar (P2,8 triliun) pada 2030, menurut estimasi perusahaan teknologi Filipina Packworks dan Kadence International Business Research berdasarkan data dari Philippine Institute for Development Studies.

Meski demikian, tingkat adopsinya masih rendah. Hanya sekitar 15% pelaku usaha di Filipina yang telah menggunakan perangkat AI. Akibatnya, sebagian besar peritel kecil masih mengandalkan pengalaman dan intuisi untuk menentukan produk yang layak mengisi ruang rak yang terbatas.

Bagi toko yang beroperasi dari rumah atau kios berukuran kecil, keputusan tersebut sangat menentukan kelancaran perputaran modal.

"Ketika toko sari-sari (mom-and-pop), minimarket, dan gerai ritel kecil lainnya menggunakan alat AI, pemilik usaha dapat lebih mudah mengidentifikasi produk yang berkinerja rendah serta memutuskan barang mana yang perlu dipertahankan, dipromosikan, atau diganti," kata Iris Lorenzo, managing director Kadence International Philippines, kepada Retail Asia. Menurutnya, kemampuan tersebut menjadi penting mengingat keterbatasan ruang penyimpanan dan ketatnya arus kas yang dihadapi pelaku usaha kecil.

AI mampu mengidentifikasi pola yang sulit dikenali secara manual, seperti produk yang lambat terjual dan mengikat modal kerja, maupun barang yang mengalami lonjakan permintaan pada periode tertentu. Informasi tersebut memungkinkan pedagang lebih fokus pada produk dengan perputaran tinggi sekaligus menyesuaikan harga atau promosi berdasarkan data.

Namun, implementasinya masih menghadapi berbagai kendala. Lorenzo menyoroti adanya analogue gap, yakni kondisi ketika operasional harian masih bergantung pada pencatatan manual atas transaksi penjualan dan kredit, sehingga data yang dibutuhkan sistem AI belum tersedia dalam format digital.

Di sisi lain, harga ponsel pintar yang mampu menjalankan aplikasi AI masih relatif tinggi bagi banyak pedagang. Keterbatasan akses internet di sejumlah wilayah juga menjadi hambatan bagi pemanfaatan teknologi tersebut.

Faktor budaya turut memengaruhi adopsi AI. Praktik pemberian kredit informal merupakan bagian dari hubungan sosial yang telah lama berkembang di toko sari-sari. Sistem AI dapat mengidentifikasi transaksi semacam itu sebagai risiko keuangan, sehingga rekomendasinya terkadang tidak sejalan dengan praktik bisnis yang telah diterima masyarakat.

Selain itu, banyak aplikasi AI masih menyajikan dasbor yang kompleks, alih-alih panduan yang sederhana dan mudah dipahami, sehingga kurang ramah bagi pemilik usaha yang terbiasa mengelola bisnis berdasarkan pengalaman.

Ketergantungan yang berlebihan pada AI juga memiliki risiko. "Hasil AI hanya sebaik data dan sinyal yang mendasarinya," kata Lorenzo melalui jawaban tertulis.

Apabila rekomendasi AI terutama bersumber dari data pemasok besar atau supermarket di kawasan perkotaan, hasilnya dapat lebih menguntungkan merek-merek besar dan mengabaikan pola konsumsi masyarakat setempat. Kondisi ini berpotensi mempersempit pilihan produk sekaligus mengurangi peran toko sebagai bagian dari komunitas lokal.

Meski demikian, implementasi awal menunjukkan potensi manfaat yang nyata apabila teknologi tersebut disesuaikan dengan kebutuhan peritel kecil.

Packworks menyebut sekitar 300 toko sari-sari yang menggunakan platform AI Store Insighting Project mencatat kenaikan penjualan sebesar 17% dalam waktu dua minggu.

"Mereka memanfaatkan informasi tersebut untuk menjalankan promosi atau menyusun kembali komposisi produk yang dijual," kata Andoy Montiel, chief data officer Packworks, melalui email terpisah. "Modal akan mengendap jika barang tidak terjual."

Di luar operasional toko, AI juga diperkirakan akan mengubah pola distribusi. Dalam 12 hingga 24 bulan ke depan, Lorenzo memperkirakan distributor akan semakin mengandalkan data penjualan di tingkat toko, beralih dari rute pengiriman tetap menuju distribusi yang didorong oleh permintaan (demand-driven).

Perubahan tersebut berpotensi meningkatkan efisiensi distribusi melalui jadwal pengiriman yang lebih tepat sasaran serta bauran produk yang disesuaikan dengan pola permintaan di masing-masing lingkungan.

Meski prospeknya menjanjikan, adopsi AI secara luas di kalangan toko sari-sari diperkirakan masih membutuhkan waktu. Perkembangannya akan bergantung pada integrasi fitur AI ke dalam aplikasi yang telah digunakan pedagang, seperti sistem point-of-sale dan aplikasi pemesanan, serta koordinasi yang lebih erat antara pemerintah, penyedia teknologi, dan sektor swasta.

Platform lokal seperti Packworks, Peddlr, dan Growsari mulai berupaya menjembatani kesenjangan tersebut dengan menghadirkan aplikasi yang dapat menggantikan pembukuan manual dan tetap berfungsi meski konektivitas internet terbatas.

"Pada 2030, pemilik toko sari-sari tidak akan merasa sedang menggunakan teknologi," kata Lorenzo. "Mereka tetap akan menjadi pemilik toko, sementara ponsel mereka akan secara otomatis membantu mengambil keputusan mengenai restocking dan pemberian kredit di balik layar."

Follow the link s for more news on

Pelonggaran sewa tarik kembali peritel ke jalanan Hong Kong

Toko di lantai dasar menawarkan visibilitas lebih tinggi bagi peritel makanan dan kebutuhan sehari-hari.

Kepergian Deliveroo picu duopoli pengiriman makanan di Singapura

Konsolidasi pasar diperkirakan mendorong kenaikan biaya pengiriman dan komisi merchant seiring dominasi Grab dan Foodpanda.

Menu lebih ramping dipandang jadi kunci usai 2.431 gerai F&B tutup

Penutupan usaha mencapai level tertinggi dalam hampir 20 tahun setelah gelombang likuidasi bisnis.

Troli pintar berbasis AI FairPrice picu lonjakan 80% nilai belanja pelanggan

Gerai unggulannya berhasil meningkatkan rata-rata nilai belanja per kunjungan dari $19,64 menjadi $35,36.

Merek-Merek lepaskan 20 juta pembeli demi konsumen kelas atas Asia

Sekitar 20 juta konsumen berhenti membeli produk mewah tahun lalu.

AI merambah toko kelontong di Filipina

Penerapan yang lebih luas berpotensi menghasilkan nilai ekonomi hingga US$48 miliar pada 2030.

DFI Retail perbarui toko Guardian dan IKEA untuk pengalaman belanja lebih cerdas

Bisnis tidak lagi sekadar transaksi, tetapi semakin bersifat advisori.

Beyond The Vines memanfaatkan wawasan daring untuk menyasar pertumbuhan di luar negeri

Brand ini melihat respons online sebelum membuka toko fisik.

Watsons luncurkan layanan eConsultation apotek pertama di Singapura

Targetnya profesional sibuk dan orang yang menginginkan privasi.

Mal di Indonesia prioritaskan pembaruan dibanding ekspansi

Perubahan ini mencerminkan fokus Thailand pada leisure dan Jepang pada efisiensi.