, APAC
1073 views
Photo by Collabstr via Unsplash

Merek kecantikan rombak strategi penjualan seiring TikTok dan Douyin kuasai belanja livestream

Douyin melampaui Tmall sebagai platform e-commerce kecantikan terbesar di China pada 2025.

Perusahaan kecantikan di Asia-Pasifik mulai mengubah strategi penjualan seiring TikTok dan platform afiliasinya di China, Douyin, mengubah cara konsumen menemukan produk dan berbelanja secara daring.

Perubahan tersebut paling terlihat di China, di mana Douyin melampaui Tmall sebagai platform e-commerce kecantikan terbesar dengan nilai penjualan mencapai US$39,8 miliar (RMB270 miliar) pada 2025, dibandingkan Tmall sebesar US$32,6 miliar (RMB221 miliar), kata Sherri He, senior partner di Kearney, Inc., kepada *Retail Asia*.

Menurut He, sebagian besar pertumbuhan Douyin berasal dari pangsa pasar yang sebelumnya dikuasai Tmall, sementara posisi JD.com relatif tidak berubah.

Douyin mengandalkan model belanja melalui siaran langsung (*livestream*) yang dipandu influencer maupun kreator konten. Pendekatan ini berfokus pada penemuan produk melalui konten, bukan melalui pencarian seperti pada platform e-commerce konvensional.

"Sebagai platform *social commerce*, siaran langsung yang dipandu *key opinion leader* (KOL) maupun *key opinion consumer* (KOC) memegang peran penting," kata He.

Model tersebut turut mendorong pertumbuhan merek kecantikan lokal seperti Maogeping dan Caitang. Kedua merek ini menyumbang sekitar 35% penjualan produk kecantikan premium di Douyin, jauh lebih tinggi dibandingkan sekitar 15% di Tmall.

He mengatakan merek premium umumnya memperoleh *return on investment* (ROI) sekitar 2,5 hingga tiga kali lipat di Douyin, lebih rendah dibandingkan lima hingga enam kali lipat di Tmall, karena biaya kerja sama dengan influencer masih cukup tinggi.

Sebagai respons, banyak merek meningkatkan porsi siaran langsung yang mereka kelola sendiri hingga mencakup lebih dari separuh total konten yang diproduksi, meski kolaborasi dengan influencer tetap penting pada tahap awal membangun merek.

Dampak platform ini berbeda di setiap pasar Asia-Pasifik. Di Hong Kong, misalnya, TikTok tidak tersedia secara resmi sehingga Xiaohongshu dan Douyin mengambil peran sebagai platform *social commerce*, kata Kathy Lee, executive director di Colliers Hong Kong.

Sementara itu, di Asia Tenggara, TikTok Shop telah mengubah pola belanja dari proses pencarian produk menjadi pembelian yang berlangsung secara instan melalui konten, katanya kepada *Retail Asia*.

Bagi merek global, kemampuan beradaptasi dengan model penjualan berbasis konten kini menjadi faktor penting untuk mempertahankan pertumbuhan. Di sisi lain, kecerdasan buatan (AI) mulai memengaruhi keputusan pembelian, meski pengaruhnya masih berada di bawah rekomendasi dari manusia.

Konsumen di Asia dan Australasia lebih terbuka terhadap rekomendasi AI dibandingkan rata-rata global, yakni 43% berbanding 38%, menurut Ahmad Khan, senior analyst di GlobalData Plc.

Meski demikian, influencer livestream dan figur media sosial masih memiliki pengaruh yang lebih besar, masing-masing sebesar 49% dan 53%, dibandingkan AI yang berada di angka 42%.

"Dalam kategori kecantikan, konsumen masih lebih mempercayai rekomendasi dari manusia dibandingkan AI," kata Khan.

Raymond Tsui, managing director di Boston Consulting Group, mengatakan merek perlu terlebih dahulu menentukan peran TikTok dalam strategi bisnis mereka.

"Merek kecantikan sebaiknya menentukan sejak awal apakah TikTok akan digunakan untuk membangun merek, meningkatkan lalu lintas pelanggan, mendorong *gross merchandise value* (GMV), atau menggabungkan ketiganya, sekaligus menetapkan keseimbangan antara investasi dan profitabilitas yang ingin dicapai," katanya kepada *Retail Asia*.

Menurut Tsui, merek lokal bergerak lebih cepat karena memiliki struktur biaya yang lebih rendah dan pengambilan keputusan yang lebih lincah. Sebaliknya, perusahaan multinasional masih terus menyempurnakan strategi mereka dalam memanfaatkan platform tersebut.

Follow the link for more news on

Brand sportswear andalkan rantai pasok demi jaga margin

Aktivitas outdoor dan olahraga wanita diperkirakan menopang permintaan di kawasan ini.

Menangkan Gen Alpha butuh lebih dari sekadar AI

Orang tua tetap menjadi penjaga gerbang pengeluaran dan data pribadi anak.

IKEA Indonesia perdalam kemitraan pemasok lokal

Retailer ini bekerja sama dengan 18 pemasok Indonesia di tiga kategori produk.

Marks & Spencer targetkan comeback lebih besar di Filipina

Ekspansi ini akan ditopang oleh toko berukuran lebih besar dan ritel omnichannel.

Pabrik bersama dorong pertumbuhan K-beauty

Merek-merek global kesulitan menyamai kecepatan pengembangan industri ini.

Levi's manfaatkan Asia untuk matangkan strategi lifestyle premium

Tren konsumen yang bergerak cepat turut membentuk strategi global merek ini.

Huawei andalkan uji kamera langsung di toko

Perbandingan langsung menggantikan spesifikasi teknis dalam strategi penjualan.

Livestream berevolusi dari sekadar gimmick pemasaran jadi kanal penjualan

Video berdurasi pendek jadi medium utama untuk penemuan produk (product discovery).

Domino's Singapura sasar pesanan dadakan lewat penyegaran merek

Jaringan pizza ini meluncurkan varian Thick Crunch untuk mendorong pesanan di luar momen pesta.

Peritel optik Singapura andalkan layanan eye care untuk dorong repeat order

Keahlian profesional jadi daya tarik yang makin penting seiring meningkatnya persaingan harga.