Restoran ramah hewan peliharaan berpotensi dongkrak lalu lintas mal di pusat kota Hong Kong
Belanja akhir pekan diperkirakan lebih menguntungkan mal di pusat kota dibandingkan pusat perbelanjaan di pinggiran.
Mal di kawasan pusat Hong Kong diperkirakan akan mencatat peningkatan kunjungan akhir pekan yang lebih besar dibandingkan pusat perbelanjaan di pinggiran kota, seiring pelonggaran aturan yang memungkinkan restoran menerima pelanggan yang membawa hewan peliharaan.
"Secara keseluruhan, kami memperkirakan kebijakan ini akan memberikan dampak yang sangat positif terhadap jumlah kunjungan," kata Philip Lam, director of retail di Savills (Hong Kong) Ltd., kepada *Retail Asia* melalui Zoom.
Pemerintah Hong Kong mulai menerima pengajuan izin pada 18 Mei dari restoran yang ingin mengizinkan anjing masuk ke area usahanya melalui program yang mencakup hingga 1.000 restoran. Persetujuan pertama diperkirakan mulai diterbitkan pada Juli.
Lam mengatakan kebijakan tersebut dapat membantu menahan belanja akhir pekan yang selama ini mengalir ke daratan Tiongkok, terutama Shenzhen, seiring semakin banyak warga Hong Kong yang bepergian ke kota tersebut pada akhir pekan.
Menurutnya, mal di pusat kota memiliki peluang lebih besar untuk memanfaatkan tren tersebut dibandingkan pusat perbelanjaan bergaya gaya hidup (*lifestyle centre*) di pinggiran, berkat kepadatan kawasan dan ekosistem makanan dan minuman yang sudah lebih mapan.
Kathy Lee, head of research and retail consultancy di Colliers International (Hong Kong) Ltd., mengatakan kepemilikan hewan peliharaan yang semakin luas di berbagai kelompok masyarakat ikut mendorong permintaan terhadap mal yang ramah bagi pemilik hewan.
"Jumlah pemilik hewan peliharaan di Hong Kong terus bertambah," katanya dalam wawancara video terpisah, seraya menambahkan bahwa banyak pemilik hewan kini mengunjungi mal setiap minggu.
Menurut Lee, aktivitas bersantap bersama hewan peliharaan kini menjadi bagian dari gaya hidup yang menggabungkan pengalaman kuliner, rekreasi, dan belanja.
Namun, kedua konsultan tersebut menilai bahwa sekadar mengizinkan hewan peliharaan masuk ke restoran tidak cukup untuk menciptakan keunggulan jangka panjang.
Lee mengatakan mal yang berhasil menarik segmen ini perlu didukung ruang terbuka serta fasilitas pendukung seperti area ritel khusus hewan peliharaan, zona aktivitas, dan instalasi yang menarik untuk berfoto.
Lam mengatakan format usaha seperti kafe dan toko roti kemungkinan akan memperoleh manfaat paling besar, sementara restoran barbeku dan *hotpot* cenderung lebih berhati-hati karena pertimbangan kebersihan.
Ia juga menyoroti kendala di kawasan perkotaan yang padat, termasuk keterbatasan akses transportasi dan fasilitas parkir bagi pemilik hewan peliharaan.
Menurut Lam, sejumlah pengembang mulai menyesuaikan desain proyek mereka dengan menghadirkan lebih banyak teras, balkon, dan ruang komunal terbuka untuk mengakomodasi tren tersebut.
Meski demikian, tantangan operasional tetap ada, terutama dalam menjaga standar kebersihan serta menyeimbangkan kebutuhan pelanggan yang membawa maupun tidak membawa hewan peliharaan.
Lee mengatakan mal kemungkinan perlu menyediakan zona khusus atau pengaturan area yang lebih jelas agar dapat mengakomodasi preferensi pelanggan yang beragam.
Lam menambahkan operator juga perlu menerapkan standar kebersihan yang lebih ketat dan aturan operasional yang jelas untuk meminimalkan potensi gesekan antarpengunjung.
Terlepas dari tantangan tersebut, menurutnya kebijakan ini sejalan dengan pergeseran industri menuju ritel berbasis pengalaman (*experiential retail*) yang mendorong pelanggan menghabiskan lebih banyak waktu di dalam mal.
"Mengizinkan hewan peliharaan masuk ke restoran akan meningkatkan durasi kunjungan pelanggan," kata Lam. Menurutnya, semakin lama pelanggan berada di dalam mal, semakin besar pula peluang mereka untuk berbelanja.
Lee menambahkan operator sebaiknya juga mempertimbangkan kebutuhan pemilik hewan selain anjing, termasuk kucing, mengingat kepemilikan hewan peliharaan di Hong Kong kini semakin beragam.