Marks & Spencer targetkan comeback lebih besar di Filipina
Ekspansi ini akan ditopang oleh toko berukuran lebih besar dan ritel omnichannel.
Marks & Spencer Group Plc (M&S) berambisi memperluas jangkauannya di Filipina melampaui kehadirannya sebelumnya, dengan menargetkan lebih dari 30 gerai seiring perusahaan ini kembali beroperasi di bawah mitra waralaba yang berbeda, setelah menutup jaringan ritelnya di negara tersebut awal tahun ini.
“Inti dari strategi kami adalah membuka toko yang tepat, di lokasi yang tepat, dengan ruang yang tepat pula,” kata Richard Davies, Director of Partnerships M&S, kepada Retail Asia. “Toko-toko kami akan lebih besar, lebih baik, dan siap omnichannel.”
Peritel asal Inggris ini akan membuka kembali gerainya pada akhir tahun ini, dengan toko flagship di Glorietta Mall, Metro Manila, sebagai langkah awal dari rangkaian pembukaan gerai berformat lebih besar yang menawarkan produk fesyen, makanan, perlengkapan rumah tangga, dan kecantikan.
M&S menunjuk PT Mitra Adiperkasa Tbk sebagai mitra waralabanya di Filipina pada Juni lalu, sebagai bagian dari strategi regional yang lebih luas.
Davies mengatakan perusahaan telah mengoperasikan gerai M&S di Indonesia dan Vietnam selama lebih dari 26 tahun, sehingga memperluas kemitraan ini ke Filipina menjadi “langkah lanjutan yang alami.”
Peritel ini sebelumnya mengoperasikan lebih dari 20 gerai di Filipina.
“Ambisi kami adalah memiliki lebih dari 30 gerai yang menghadirkan yang terbaik dari M&S Fashion and Food kepada pelanggan di Filipina,” kata Davies.
Dalam laporan resminya pada Mei 2026, M&S mencatat laba sebelum pajak yang disesuaikan sebesar US$899 juta (£671,4 juta) untuk tahun fiskal 2025/2026, turun dari US$1,2 miliar (£881,1 juta) pada tahun sebelumnya. Laba yang disesuaikan pada semester kedua naik 4,1% secara tahunan, seiring pertumbuhan segmen makanan yang menutupi kinerja yang lebih lemah pada segmen fesyen, rumah tangga, dan kecantikan.
Penjualan internasional turun 7,2% sepanjang tahun, sebagian akibat keterlambatan pengiriman ke Timur Tengah pada bulan terakhir tahun fiskal tersebut. Meski begitu, laba operasional yang disesuaikan dari bisnis internasional naik menjadi US$52 juta (£39,1 juta) dari sebelumnya US$48 juta (£35,9 juta), didorong oleh penurunan biaya seiring M&S menyederhanakan perjanjian waralaba serta memperluas kemitraan grosir dan marketplace daring.
Davies mengatakan M&S tetap optimistis terhadap pasar Filipina meski sempat menutup gerainya, dengan menyoroti fundamental konsumen yang kuat serta basis pelanggan yang loyal.
“Kami memiliki kehadiran yang sudah berlangsung lama di Filipina, sejak beroperasi di pasar ini pada 1984, dan kami yakin masih ada peluang pertumbuhan ke depan,” ujarnya.
“Filipina merupakan pasar yang terus bertumbuh untuk sektor ritel. Pasar ini memadukan populasi yang besar, muda, dan mengikuti tren, dengan pendapatan yang dapat dibelanjakan (disposable income) yang terus meningkat serta permintaan yang kuat terhadap merek-merek global,” tambahnya.
Davies menegaskan perusahaan tetap berkomitmen pada pasar ini meski operasinya sempat terhenti.
“Kami memiliki basis pelanggan yang sangat loyal di pasar ini, dan kami akan berupaya sebaik mungkin untuk menghadirkan keajaiban M&S bagi pelanggan di Filipina,” tutupnya.